KETIKA Indonesia dilanda krisis ekonomi dan berlanjut hingga muncul gejolak minyak tanah, harga minyak bersubsidi melambung, barangnya pun sulit didapat. Masyarakat makin tercekik karena harga kebutuhan pokok juga melambung.
![]() |
| SUPARMIN memperlihatkan cara kerja kompor hemat bertenaga air atau brazier water fuel (BWF). Kompor BWF selain ekonomis dan efektif dilengkapi dengan korek elektrik juga ramah lingkungan karena tak menimbulkan asap hitam.*EVIYANTI/”PR” |
Di sejumlah tempat ditemukan antrean manusia, terutama ibu rumah tangga yang berusaha untuk mendapatkan minyak tanah. Mereka panik karena tidak bisa memasak. Bahkan, sebagian warga ekonomi lemah akhirnya beralih menggunakan kayu bakar. Pemandangan mengenaskan ini nyaris tidak pernah terjadi selama 30 tahun terakhir.
“Krisis ini berlanjut dengan terjadinya krisis elpiji untuk bahan bakar kompor gas, yang biasa digunakan oleh keluarga menengah ke atas. Sebenarnya kenyataan pahit ini sudah terjadi, bahkan sudah berkali-kali dan berlanjut,” katanya.
Suparmin Sinuang Rahardja, alumni Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya jurusan elektro, sudah berpikir jauh. Bahkan dengan kemampuannya, dia berhasil menciptakan terobosan yang mampu mengatasi krisis BBM dan elpiji. Hanya karena ketidakmampuan dalam mengakses dana, temuannya tenggelam selama bertahun-tahun.
“Bukan tidak mungkin akan terjadi gejolak krisis kompor gas. Kenyataan seperti ini sudah terjadi, bahkan sudah berkali-kali,” katanya. Melihat kondisi yang memprihatinkan itu, warga Perumahan Kalibagor Indah Blok A3 RT/RW Kaligabor, Banyumas tergerak hatinya ingin menolong dan meringankan penderitaan ekonomi masyarakat kecil.
Dia lantas berpikir, urusan sederhana seperti penghematan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bisa dilakukan. Bagi Sinuang, itu bukan menjadi persoalan karena sudah banyak hasil temuan terobosan dengan teknologi sederhana yang sudah dia lakukan. Hampir semua penemuannya untuk meringankan beban masyarakat kecil.
Gagasan itu muncul tiga tahun lalu meski berbagai kegagalan dalam riset sudah dia rasakan. Akhirnya, dia berhasil menciptakan kompor hemat bertenaga air atau brazier water fuel (BWF). Untuk menciptakan kompor BWF, ia mengaku sudah melakukan riset selama tiga tahun dan menghabiskan dana Rp 300 juta. Karena kehabisan modal, riset pun terhenti.
Proses kerja kompor minyak-air ini cukup sederhana. Adapun penggunaan minyak dan air diatur dengan komposisi 1 banding 10. Artinya, untuk 1 liter minyak tanah kombinasi airnya sebanyak 10 liter. Akan tetapi, 1 liter minyak tanah juga bisa diganti dengan bahan bakar dari jenis spirtus atau alkohol dengan komposisi sama.
Kedua zat cair itu lalu dimasukkan dalam satu wadah yang dihubungkan dengan sumbu kompor. Akan tetapi sebelum sampai ke sumbu, ada satu alat yang mengatur proses pemanasan atau sublimasi sehingga menghasilkan nyala api.
Hanya menggunakan 10 liter air dan satu liter minyak tanah, spirtus, atau alkohol dan listrik 10 watt, kompor BWF bisa dioperasikan selama 12 jam penuh untuk kebutuhan memasak.
Dipatenkan
Kompor BWF selain ekonomis dan efektif dilengkapi dengan korek elektrik juga ramah lingkungan karena tak menimbulkan asap hitam. Oleh karena itu, tidak menimbulkan noda hitam berupa jelaga pada peralatan dapur. Panas api mencapai 100-300 derajat Celsius. Nyala api bisa diatur layaknya kompor elpiji, terserah selera pemiliknya.
Hasil temuan itu pada 23 Februari 2003 telah dipatenkan ke Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kab. Banyumas. Lalu tanggal 3 November 2003 dengan permohonan paten melalui Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Fakultas Hukum Undip Semarang dan diterima oleh Dephukham RI Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual No. S00200300151.
Jika Sinuang mampu menggandeng investor, sudah yakin BWF bisa menggeser pemakaian kompor elpiji. Pemerintah pun ikut terbantu, tidak perlu sibuk menghitung kenaikan harga gas elpiji atau bahkan harus impor gas. Juga tidak perlu sibuk menghitung berapa besar subsidi, yang harus dikurangi untuk pemakaian setiap liter minyak tanah.
Selain kompor BWF, berbagai inovasi berupa terobosan dari paduan berbagai ilmu dan bakat alamnya, mampu menghasilkan teknologi berbiaya murah. Di antaranya sekering listrik Saeniki Elektric Fuse (SEF), yang bisa menghemat pemakaian listrik 20 sampai 50%.
Idenya, berawal dari ketidakberdayaan masyarakat pengguna listrik dari kalangan menengah ke bawah, yang setiap bulannya selalu mengeluh besarnya rekening tagihan PLN. Beberapa pelanggan listrik yang sudah menggunakan SEF, terbukti jumlah tagihan rekeningnya turun.
Khusus untuk SEF dikeluarkan tiga produk. Setiap produknya disesuaikan dengan kebutuhan dan daya terpasang untuk pelanggan rumah tangga. Daya 430 watt dapat digunakan sekering kaca dari 2 sampai 4 ampere. Daya 900 watt digunakan dari 4 sampai 6 ampere dan daya 1.300 watt dari 6 sampai 8 ampere.
Alat itu hanya bisa digunakan untuk kapasitas rumah tangga, bukan industri atau home industry. SEF bisa bekerja pada kapasitas daya listrik 450 sampai 1300 watt dengan tegangan kerja 220 sampai 230 volt. SEF dirancang dan diproduksi untuk digunakan dalam masa 3 sampai 5 tahun. Pemakaian sesudah masa berlaku, SEF akan berfungsi seperti sekering biasa.
Dalam demonstrasi di rumah tinggal yang memiliki kapasitas terpasang 450 watt, yang dipasang sekering SEF. Lalu, setrika listrik, lemari es, televisi, atau jet pump sampai alat penghalus kayu diaktifkan dalam waktu bersamaan. Meski total penggunaan lebih dari 1.000 watt listrik terbukti tidak mati karena alat pencatat di kwh (TDL) berjalan lambat. “Ini membuktikan beban tidak over atau tidak kelebihan beban,” katanya.
Pelanggan bisa mengecek berapa besar pemakaian listrik. Caranya dengan membandingkan penggunaan sekering SEF dengan sekering biasa atau mini status (MCB). Jika menggunakan MCB selama 168 jam (7 x 24 jam), pemakaian akan menghabiskan 35 kwh, sedangkan menggunakan SEF listrik yang digunakan hanya 15 kwh.
Akan tetapi, gara-gara temuan itu ia pernah didatangi petugas PLN dan polisi karena dikira membantu melakukan pencurian listrik. Namun setelah diteliti, ternyata tidak ada masalah. Alat SEF itu di pasaran dijual Rp 150 ribu. Alat itu kini sudah dipatenkan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Dephum dan HAM), yang sudah diakuinya. Sayangnya, Sinuang enggan membeberkan cara kerja dan perangkat dalam SEF. “Saya takut jika terjadi pembajakan,” katanya.
“Jadi jika sudah menggunakan SEF, sebenarnya negara bisa menghemat biaya untuk subsidi listrik. Pemerintah juga tidak perlu membangun projek raksasa untuk membangun pembangkit listrik, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) atau Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan bahan bakar batu bara. Atau, pembangkit lain yang menelan biaya triliuan rupiah,” kata Sinuang berpromosi.
Dia juga telah berhasil menciptakan alat detektor gas sensor (DGS). Alat ini terbilang baru karena di pasaran belum beredar alat pendeteksi kebocoran gas elpiji. Alat ini bekerja sangat sederhana, ketika ada kebocoran selang atau tabung gas elpiji, alat sensor langsung berbunyi. Saat DGS berbunyi, dia menyarankan untuk tidak menyalakan rokok atau korek api. Bunyi itu menandakan kebocoran gas. (Eviyanti/”PR”)***
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/042007/03/0403.htm
