Pada zaman globalisasi ini mayoritas industri baik itu industri rumah tangga maupun industri kecil menggunakan kompor sebagai alat masak utaman dalam proses memasak. Hal ini disebabkan selain memberikan banyak kemudahan dalam memasak ternyata efisiensi kompor dalam penggunannya memberikan dampak positif bagi penggunaan Sumber Daya Alam yaitu sebagai bahan bakar fosil.

Menurut SII pembakaran Bahan Bakar Fosil / BBF merupakan faktor penting dalam menentukan efisiensi kompor tetapi mayoritas produsen kompor tidak memenuhi standar persyaratan tersebut, mereka cenderung membuat kompor tanpa memperhatikan kinerja kompor dan efisiensi penggunaan bahan bakarnya sehingga sebagian besar kompor yang diperjualbelikan tidak memenuhi syarat mutu sesuai kriteria yang tercakup pada SII dan memerlukan pemeliharaan yang khusus agar kompor tersebut dapat awet dan tahan lama. Kompor yang ada pada umumnya lambat menghasilkan energi panas sehingga proses memasak menjadi sangat lama.

Bahan bakar fosil yang digunakan kompor pada umumnya menggunakan minyak tanah sebagai sumber energi. Pembakaran dengan menggunakan bahan bakar minyak ini sangat memboros energi dengan kata lain energi yang terbuang jauh lebih besar daripada energi yang digunakan sehingga diperlukan bahan bakar yang banyak dalam proses memasak.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa inovasi tenaga sampah yang berbahan bakar briket limbah organik lebih banyak menghemat energi daripada komppor yang berbahan bakar minyak tanah. Hal ini terbukti bahwa kompor inovatif tenaga sampah mampu memasak air sebanyak 65 liter, sedangkan kompor minyak tanah hanya 60 liter dalam jam/bahan bakar yang sama yaitu sebanyak 1 liter/1dm3. Sedangkan pengujian terntang kestabilan suhu api, kompor inovatif tenaga sampah ini walaupun suhu api awal relatif lama, namun suhu api akhir relatif stabil yaitu 480C, berarti masih dibahah standar suhu api yang ditetapkan oleh SII.

http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Edukasi&id=81860